Phone at

+62 24 76636091

Free Brochure

Download

Berita

1001 Alasan untuk Negeri Gajah Putih

1001 Alasan untuk Negeri Gajah Putih

1001 Alasan untuk Negeri Gajah Putih

 

Jika mengulang kembali, mungkin saya akan mengingat bagaimana saya hanya memilih Negara tujuan mengajar dengan asal. Tanpa pertimbangan. Meski di beberapa bagian hanya insting yang memainkan.

Nyatanya menjadi seorang relawan pengajar di Thailand adalah sebuah hal yang bisa dikatakan sebagai anugrah tanpa disadari secara langsung. Di sebuah Negara yang benar-benar seperti saudara kembar Negara sendiri, dengan plot cerita seperti negeri dongeng. Tak mulus dan lurus menjadi sebuah akhir bahagia, namun diiringi tangis dan berbagai perasaan yang membuncah.

Perjalanan di Thailand diawali dengan cerita bak pendakian bukit, penuh kesabaran dalam perjalanan untuk mendapatkan pemandangan terbaik. 24 jam di tempat yang terasa asing dengan berbagai manusia yang berkumpul menjadi satu, dan kamis tepat hari kedua bulan kedelapan, perjalanan sebenarnya dalam pendakian gunung sesungguhnya dimulai.

Saya meraba dari tanpa tahu apa-apa. Pengajaran dasar yang sangat berharga meskipun bak Pluto yang disandingkan dengan matahari besarnya membuat mata saya semakin terbuka dengan lebar. 44 huruf yang begitu berbeda dengan apa yang biasa saya tulis dan baca muncul dihadapan saya. Menegangkan sekaligus mengadiksi utnuk mengetahui lebih dalam.

Empat hari pertama, saya dipertemukan dengan beberapa orang yang begitu menakjubkan dengan rasa haus akan tantangan hidup yang sama besarnya dengan apa yang saya rasakan. Perancis, Spanyol, Hungaria, Belgia, dan pastinya Indonesia mencoba hal-hal yang tidak pernah kami lakukan di hidup kami. Menantang dan vice versa, memberi dan vice versa. Semuanya bagai berjalan di sebuah jalanan yang kita tak tahu dimana ujungnya namun kita tetap melewatinya. Memperlajari berbagai hal yang harus kami ketahui mengenai Negeri Gajah Putih ini, bercengkrama dengan masyarakat sekitar tanpa merasa ada batasan, membagi tawa dengan anak-anak di sekolah dasar, berteman lebih dekat dengan alam, mengenal berbagai hal termasuk perbedaan yang ada di sekitar kita, sampai semuanya harus berpisah pada misi masing-masing.

Tanggal keenam, bulan ke delapan. Pihak dari sekoah terkait menjemput. Saya ditempatkan di daerah bernama Sadao yang hanya berjarak beberapa kilometer dari perbatasan antara Thailand dan Malaysia. Sebuah daerah dengan budaya melayu dan islam kental yang melingkupi. Sangkhom Islam Wittaya School namanya. Sebuah sekolah berbasis keagamaan dengan tingkatan sekolah dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas. Walaupun saya hanya berada di sekolah ini selama seminggu, namun banyak hal yang saya pelajari mengenai isu perbedaan hendak dimanapun tetap akan menjadikan lingkungan baik di pihak mayoritas atau minoritas menjadi sebuah sistem tersendiri bagi tiap pihaknya karena itu sebuah hal yang wajar terjadi. Tapi nyatanya di Thailand, semua berjalan selaras beriringan tanpa menyinggung satu sama lain. 24/7 yang menyenangkan dengan sapaan dan tawa yang dibagikan warga sekolah tersebut, meskipun komunikasi tak selancar yang diharapkan, namun tetap saling merengkuh dengan hangat satu sama lain.

Saya bertemu dengan beberapa orang hebat di tepat ini. Lima orang guru yang juga dari Indonesia yang mengajar siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang menerima kami dengan tangan terentang dan cerita di setiap waktu pelepas penat, guru-guru muda yang mengajar siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang selalu berusaha bercengkrama dengan saya meskipun kami sama-sama berusaha keras untuk memahami masing-masing dengan kendala bahasa yang ada, pun murid-murid yang selalu bertukar canda kala berpapas muka membuat hari-hari tak pernah membosankan. Begitu pula setiap momen, seperti hari olahraga dengan berbagai kompetisi yang diadakan dan parade serta persiapanya yang begitu mengundang letih, penat, dan lega. Namun setiap pertemuan pasti ada perpisahan.

Dua minggu tepat di negeri yang membawa perasaan yang sama seperti rumah, 3 taman kanak-kanak menanti dengan segala tawa lebar yang terpampang dan tingkah lucu yang menggemaskan. Dari sini banyak hal yang saya pelajari mengenai perbedaan mendasar budaya meski saya merasa awalnya baik Indonesia maupun Thailand hampir sama dan mungkin sebagian besar akan hanya seperti bertandang ke kota sebelah, nyatanya tidak. Keduanya sama-sama berkembang, termasuk dalam bidang pendidikan. Tapi baik Thailand maupun Indonesia memiliki ciri khas masing-masing yang tidak bisa terbantahkan, mungkin bergantung pada sejarah masing-masing, atau bagaimana jalan yang ditapaki masing-masingnya, tapi manajemen pendidikan di Thailand begitu bagus dan banyak hal yang bisa dicontoh dan diterapkan di Indonesia juga. Di balik hal tersebut, membantu para guru di taman kanak-kanak juga salah satu hal yang membuat saya lebih mengenal budaya Thailand lebih dalam termasuk bahasanya karena dalam pengajaran Bahasa Inggris yang saya lakukan kepada anak-anak yang masih begitu belia, saat itu juga saya mengikuti bahasa-bahasa dasar yang mereka pelajari.

Sampai bulan kesembilan datang dan dua dari lima hari kerja harus berpindah untuk sekolah menengah atas. Sekolah menengah Siriwanwari, sekolah dimana saya melihat pandangan yang lebih luas dari masyarakat Thailand terhadap suatu hal.  

Mengajar ilmu alam dasar seperti fisika bukanlah hal yang mudah untuk sekali penerapan meskipun dengan bahasa ibu, terlebih dengan bahasa yang masih sulit dipahami oleh siswa, seperti Bahasa Inggris. Namun dengan keterbukaan dan bagaimana gairah dan keramahtamahan yang besar, segalanya menjadi menyenangkan seperti tak ada batasan, seperti perbedaan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, ataupun Bahasa Thailand namun menjadi satu salam senyum dan tawa. Mereka bercerita, berbagi pengalaman seru meskipun pening menjarah karena otak yang harus berputar keras menerjemahkan kata demi katanya, tetapi respon, tanggapan, dan segala hal menjadi salah satu hal yang seolah meleburkan semuanya.

Jika mengulang kembali, mungkin saya akan mengingat bagaimana saya hanya memilih Negara tujuan mengajar dengan asal. Namun mungkin jika mengulang kembali dua bulan mengesankan ini, saya bisa menulis seribu satu alasan kenapa Thailand begitu berharga menjadi tujuan Negara yang dituju.

Kebaikan hati. Tawa yang tersaji. Budaya dan cara hidup yang menarik untuk dipelajari. Keindahan alam yang memikat hati. Semua bak paket lengkap untuk menjadi seribu satu alasan menjejaki tanah damai ini. Apapun agamamu. Apapun kepercayaanmu. Apapun gendermu. Apapun seksualitasmu. Apapun bahasamu. Apapun suku dan rasmu. Kamu adalah kamu. Dan Thailand menerimamu sebagaimana kamu.